Interview Bersama Chasing Noise

Beberapa hari yang lalu,saya melakukan sebuah interview lewat e-mail dengan salah satu musisi instrumental/cinematic asal Jakarta bernama Chasing Noise. Jawaban maupun respons darinya cukup menarik untuk dilewatkan..Selamat membaca! 🙂

Boleh perkenalkan kamu dan chasing noise?

Chasing Noise adalah Donnie Angkuw, seorang musisi, komposer, dan juga sound engineer lulusan fakultas musik di salah satu universitas di daerah Tangerang. Saya menciptakan Chasing Noise pada tahun 2010, di mana pada saat itu saya menyadari bahwa terdapat sisi lain dari musik selain nada, teknik, dan lirik saja. Chasing Noise diciptakan berdasarkan kekaguman saya akan alam seperti lautan, pegunungan, dan langit. Setiap lagu mempunyai cerita tersendiri. Beberapa ceritanya dapat dibaca pada halaman Bandcamp dari Chasing Noise. Inspirasinya didapatkan ketika melihat alam secara langsung atau melalui film.

Musik yang bagaimanakah untuk menggambarkan Chasing Noise secara keseluruhan? Cinematic?

Musik Chasing Noise bisa dikategorikan sebagai musik cinematic. Ia lebih mengedepankan instrumentasi seperti gitar, piano, glockenspiel, dan juga drums. Unsur musiknya juga lebih ke kencang namun bukan heavy metal. Nada dan kord pada musik-musik Chasing Noise ditulis dan dimaksudkan untuk membawa hal-hal positif bagi yang menikmati. Bersyukur, kekaguman, dan kontemplasi merupakan hal-hal yang dijadikan pengingat dalam membuat musik-musiknya. Semuanya diciptakan bukan dengan kesengajaan, namun keluar secara nyata dan tidak dibuat-buat. Musik Chasing Noise juga bisa disebut cinematic dikarenakan beberapa musik dari Chasing Noise pun sudah pernah menghiasi film-film indie di luar negeri walaupun mungkin masih dalam skala yang tidaklah besar.

Bagaimana cara kamu mendistribusikan karya kamu sebagai musisi indie? yang saya lihat kamu distribusi lewat NoiseTrade juga ya?

Musik dari Chasing Noise didistribusikan melalui iTunes, Spotify, Bandcamp, Deezer, dan juga platform musik sebagainya. Namun NoiseTrade, platform yang menyediakan wadah untuk mendistribusikan musik secara gratis, merupakan salah satu favorit saya. Banyak orang bilang bahwa mendistribusikan musik secara gratis merugikan artisnya dan tidak ada untungnya. Namun saya bisa bilang bahwa mendistribusikan musik secara gratis, dan melalui NoiseTrade, merupakan jalur yang bisa diikuti oleh musisi terutama yang masih independent (indie).

Album Chasing Noise "Relieved"
Album Chasing NoiseRelieved

Apakah musik-musik yang kamu buat terinspirasi dari genre postrock juga? Jika iya..sebutkan band postrock yang sering kamu dengar?

Banyak musik dari Chasing Noise terinspirasi dengan mendengar musik ilustrasi pada film. Musik Chasing Noise juga banyak terinspirasi dari genre postrock. Itu merupakan salah satu ranah yang sangat saya senangi, dalami, dan kagumi. Pada awalnya saya merupakan penikmat musik Explosions In The Sky. Band yang setiap personilnya menurut saya memberikan totalitas maksimal dalam setiap penampilannya. Dari situ inspirasi saya mulai berkembang ke Sigur Ros. Sebuah band yang mampu membuat orang menangis haru melalui lirik asing dan musik. Hammock juga termasuk inspirasi saya dalam bermusik. Hingga postrock berkembang kepada akar-akar baru seperti Lights & Motion, Lowercase Noises, The Sleep Design, dan Helios. Mereka semua merupakan inspirasi terbesar saya dalam menulis musik.

Selain influence dari luar..Apakah kamu tahu beberapa projekan instrumental lokal yang bisa jadi konsepnya sama seperti CH yang agak cinematic..soundtrack? 🙂

Untuk influence musik lokal, saya yakin banyak yang mempunyai konsep cinematic yang sangat bagus. Salah satu band yang saya kagumi adalah Eveleen, band asal Magelang, Jawa Tengah. Saya rasa mereka memainkan musik dengan tulus dan itu terasa ke lagu-lagu yang mereka rekam. Juga ada Cerah, musisi dan juga pianis yang memainkan musik dengan indah. Mungkin konsep mereka sedikit berbeda dengan Chasing Noise, namun saya yakin ada benang merah dari musik yang kami mainkan.

Instrument atau aplikasi smartphone apa yang bisa membuat kamu menyimpan dan menemukan ide dan inspirasi dalam menulis sebuah lagu?

Dalam menemukan ide, untuk instrumen, saya mengandalkan gitar dan efek atau piano. Dari situ saya dapat mengeksplor berbagai macam sound yang menginspirasikan nada dan harmoni. Dalam menulis lagu, aplikasi voice memo dan kamera pada handphone sangat saya andalkan jika ingin merekam lagu secara cepat agar ide yang didapat tidak hilang begitu saja.

Apa CH punya rencana kedepan mau berkolaborasi atau split album dengan musisi tertentu?

Untuk rencana ke depan, kolaborasi dengan musisi tertentu ada dalam pemikiran. Namun untuk saat ini masih belum. Masih ada beberapa musik Chasing Noise yang ingin saya tampilkan pada album berikutnya.

                                

Pertanyaan Terakhir. Jika kamu disuruh milih untuk melakukan konser di alam terbuka..Tempat mana yang lebih membuat kamu bersemangat? Tengah hutan? Padang rumput? 🙂

Tempat untuk melakukan konser yang tepat untuk Chasing Noise adalah padang rumput. Menikmati pemandangan yang indah dan ditemani sinar sore matahari atau bintang di malam hari adalah tempat konser yang saya rasa sangat tepat untuk musik seperti Chasing Noise. Sama halnya seperti menonton film dengan latar pemandangan landscape alam pegunungan dan musik sebagai ilustrasi.

 **** Interview dilakukan melalui surel dan telah diedit seperlunya. Mengenai Chasing Noise,silakan kunjungi Bandcamp, NoiseTrade maupun Soundcloud.

Related Post

Tinggalkan Balasan